CR7 Raja Eropa

Akhirnya pemain sayap Manchester United asal Portugal, Cristiano Ronald-lah yang memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa atau Ballon d’Or 2008. Dia menjadi raja Eropa setelah mengalahkan para kandidat lain yaitu pemain Argentina Lionel Messi dan striker Liverpol Fernando Torres. Sementara itu peraih gelar tahun lalu yaitu Ricardo Kaka justru terlempar dari tiga besar menyusul penampilannya yang kurang bersinar di AC Milan. Ronaldo sebelumnya juga sukses menyabet gelar pemain terbaik dunia versi FIFPro 2008 dan pemain terbaik versi asosiasi jurnalis serta pemain profesional di musim 2006-2007.
Gelar yang disematkan untuk Ronaldo tersebut menyusul penampilannya yang gemilang bersama Manchester United musim lalu. Meski dia bukan striker, dia berhasil mencetak 42 gol musim lalu bersama MU di semua event, bahkan melampaui pencapaian striker MU Wayne Rooney. Dia juga yang turut berjasa membawa MU meraih gelar ganda yaitu Piala Champion dan juara English Premier League musim 2007/2008.
Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro lahir di Madeira 5 Februari 1985, mengawali kariernya di Sporting Lisbon, Portugal. Debutnya dimulai ketika Sporting melawan Moreirense dan dia mencetak dua gol. Tahun 2003 dia berhasil memikat hati Sir Alex Ferguson, pelatih Manchester United, ketika Sporting mengalahkan Manchester United dalam sebuah pertandingan uji coba.
Ronaldo diplot untuk menggantikan David Beckham yang meninggalkan Old Trafford ke Real Madrid. Dia juga dipercaya mewarisi kaus bernomor keramat 7, yang selama ini selalu dipakai oleh para pemain besar seperti David Beckham, Bryan Robson, Eric Cantona dan George Best. Di MU dengan ketrampilan individunya dia berhasil memikat dunia. Sebelum musim kompetisi 2008/2009 dimulai bahkan klub terkaya dunia Real Madrid dengan segala cara berusaha mendapatkan pemain berusia 23 tahun tersebut, sebelum kemudian menyerah setelah Ferguson mati-matian mempertahankan keberadaan pemain kesayangannya tersebut di Old Trafford.
Bagi MU Ronaldo adalah pemain ke 4 yang meraih gelar tersebut setelah Dennis Law (1964), Sir Bobby Charlton (1966), dan George Best (1968). Sementara bagi Portugal Ronaldo adalah pemain ke 3 yang mendapat gelar tersebut setelah Eusebio dan Luis Figo.
Meski demikian, suara-suara pro dan kontra tetap mengiringi terpilihnya Ronaldo tersebut. Ronaldo disebut-sebut mempunyai kebiasaan yang kurang terbaik, yaitu diving. Selain itu bersama timnas Portugal dia juga gagal mempersembahkan penampilan terbaiknya, seperti dalam laga uji coba Portugal melawan Brazil beberapa pekan lalu. Malah penampilan terakhir Ronaldo melawan Manchester City akhir pecan lalu berujung kartu merah baginya ketika dia dianggap sengaja menyentuh bola dengan tangannya. Untuk itu pelatih Inter Milan, Jose Morinho, berpendapat bahwa Ronaldo tidak pantas memenangi Ballon d’Or 2008 melainkan salah satu pemain asing di timnya yang lebih layak mendapat gelar tersebut. Dalam hal ini dia merujuk pada Zlatan Ibrahimovic. Sementara Carlo Ancelotti mengingatkan bahwa sepak bola bukanlah permainan individu, melainkan kekompakan tim. Sementara Kaka dengan lapang dada mengakui bahwa dengan prestasinya di musim lalu Ronaldo sangat pantas mendapat gelar tersebut.

Mengenang Rumah Masa Depan

Di Desa Cibeureum, Cianjur yang sejuk dan damai, di sebuah rumah sederhana tinggal sebuah keluarga terdiri dari Pak Sukri (Dedy Sutomo) dan Ibu Sukri (Aminah Cendrakasih), dengan dua orang anaknya Bayu (Septian Dwicahyo) dan Gerhana (Andi Ansi). Lalu ada juga Kakek (Hamid Arief) juga Nenek (Mak Wok, Wolly Sutinah). Ada juga Pak Kepala Desa yang menduda, dan selalu dijadikan sasaran gosip Bu Suwito (Mieke Wijaya) yang kaya dan sombong.

Semua itu hanya ada di serial sinetron Rumah Masa Depan, yang ditayangkan setiap Minggu siang di TVRI di tahun 1984-an. Rumah Masa Depan lahir setelah TVRI mengadakan dengar pendapat dengan para pengisi siaran tahun 1983. Ali Shahab yang hadir melemparkan gagasan: bagaimana kalau film seri digarap sepenuhnya oleh kelompok di luar instansi itu. Maka disepakati PT September Promotion (Sepro) yang memproduksi film itu, dengan TVRI hanya menyediakan dana.

Rumah Masa Depan memang penurut pengakuan sutradara Ali Shahab memang terinspirasi dari film serial asing A Little House on the Prairie yang juga diputar TVRI. Dan seperti halnya dengan semua tayangan di TVRI serial ini juga lengkap dengan pesan moral, maka disepakati Rumah Masa Depan harus memperlihatkan kerukunan antarwarga dari satu masyarakat pedesaan. Seperti halnya serial A Little House on the Prairie yang berpusat pada keluarga Michael Landon, demikian juga pada Rumah Masa Depan, tokoh sentral serial ini adalah keluarga Pak Sukri, dengan segala suka dan dukanya. Selain pemeran keluarga Pak Sukri ada banyak bintang tamu yang turut menyemarakkan serial ini seperti Sukarno M. Noor, Tino Karno, Mila Karmila bahkan sutradara Ali Shahab juga ikut main di beberapa episode.

Episode pertama berjudul Nenekku Manis Jangan Menangis. Ceritanya tentang Mak Wok yang kesepian di tengah ingar-bingar ibukota Jakarta, lalu jatuh sakit, lalu kembali ke desa, tinggal bersama anak dan cucu. Sebuah awal yang menjanjikan kampanye ‘lirik desa, tinggalkan kota’ Dakwah ini semakin jelas pada seri-seri selanjutnya: Cibeureum digambarkan sebagai desa yang teduh dengan para warga yang jujur. Kalaupun di suatu saat ada keributan biang keroknya selalu orang kota, atau orang yang baru pulang dari kota. Bu Suwito, tokoh nyinyir yang dalam beberapa episode, digambarkan sebagai tukang bikin runyam, adalah contoh. Ia sok modern, sombong, tetapi selalu pada akhirnya menyesal dan minta maaf.

Ada lagi salah satu episode Yang Lepra Yang Terhina yang menceritakan Pak Kosin seorang pengrajin tanah liat juga seorang penderita lepra. Dia dikucilkan oleh orang-orang kampung karena penyakitnya. Dalam episode Anak Ajaib, Ali Shahab begitu membela anak desa yang tak bersekolah tetapi bisa mengalahkan anak-anak kota dalam adu cerdas-cermat, hanya karena anak yatim ini berjualan majalah yang sekaligus menjadi sumber ilmunya. Dan pesan moralnya di sini jelas: pendidikan tak hanya diperoleh dari bangku sekolah.

Sayang serial yang legendaries itu tidak bertahan lama. Mengingat waktu itu TVRI mengharamkan adanya iklan komersial di televisi maka tidak ada pendapatan dari sponsor, konon PT September Promotion menanggung sejumlah kerugian materi selama produksi ini berlangsung.

Perokok Adalah Orang yang Egois!

Merasa terganggu oleh asap rokok di ruang tunggu terminal, Asti menegur seorang lelaki di sampingnya yang sedang asyik merokok. “Mas, mau nggak Anda menelan permen yang telah saya kunyah ini?”
Lelaki itu merasa heran, “Ya, tentu saja saya tidak mau?”
“Kenapa?”
“Saya tidak mau memakan sesuatu yang keluar dari mulut Anda.”
“Lalu mengapa Anda membiarkan saya menghisap asap rokok yang telah keluar dari mulut Anda?”
Mungkin apa yang dirasakan oleh Asti tadi pernah juga dialami oleh kita, terganggu dengan asap rokok orang lain, sementara Sang Perokok sendiri tak perduli bahwa ulahnya tersebut mengganggu orang lain. Padahal asap rokok kecuali mengganggu ternyata juga berbahaya bagi kesehatan. Memang suatu hal yang tidak adil bagi orang yang terpaksa harus menghirup asap rokok dari orang-orang sekelilingnya yang merokok.
Padahal fakta membuktikan, asap yang dihisap perokok (mainstream smoke), besarnya hanya 4 persen saja, sedangkan asap rokok yang dikeluarkan rokok terbakar saat tidak dihisap (sidestream smoke) mencapai 96 persen dari total massa pembakaran rokok.
Di sini sidestream smoke lebih berbahaya daripada mainstream smoke. Pasalnya sidestream smoke keluar ke udara tanpa saringan dan mengeluarkan zat racun lebih banyak. Asap rokok diketahui telah mengandung sekitar 4.000 bahan kimiawi, dimana 60 diantaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Tak heran jika pengaruh asap rokok pada perokok pasif itu tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.
Penyakit yang dapat diderita perokok pasif ini tidak lebih baik dari perokok aktif, malah lebih buruk lagi. Perokok pasif menjadi mudah menderita kanker, penyakit jantung, paru dan penyakit lainnya yang mematikan. Mereka yang dikelilingi oleh asap rokok akan lebih cepat meninggal dibanding mereka yang hidup dengan udara bersih dengan angka kematiannya meningkat 15% lebih tinggi.
Dari penelitian terhadap 1.263 pasien kanker paru-paru yang tidak pernah merokok, terlihat bahwa mereka yang menjadi perokok pasif di rumah akan meningkatkan risiko kanker paru-paru hingga 18 %. Bila hal ini terjadi dalam waktu yang lama, 30 tahun lebih, risikonya meningkat menjadi 23 %. Bila menjadi perokok pasif di lingkungan kerja atau kehidupan sosial, risiko kanker paru-paru akan meningkat menjadi 16 % sedang bila berlangsung lama, hingga 20 tahun lebih, akan meningkat lagi risikonya menjadi 27%. Sedangkan pada janin, bayi dan anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah, bronchitis dan pneumonia, infeksi rongga telinga dan asthma. Pemerintah Amerika sendiri memperkirakan bahwa setiap tahunnya terjadi 3.000 kematian akibat kanker paru-paru pada mereka yang tidak merokok sebagai akibat menjadi perokok pasif. Sementara di China disebutkan bahwa penyakit jantung koroner pada perempuan yang suaminya perokok sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan dengan yang suaminya tidak merokok. Angka ini meningkat sampai 85 persen bila perempuan itu juga menjadi perokok pasif di tempat kerjanya.

Dengan besarnya jumlah dan tingginya presentase penduduk yang mempunyai kebiasaan merokok, Indonesia merupakan konsumen rokok tertinggi ke lima di dunia pada tahun 2002 dengan 182 milyar batang rokok setiap tahunnya setelah Republik Rakyat China (1.697.291milyar), Amerika Serikat (463,504 milyar), Rusia (375.000 milyar) dan Jepang (299.085 milyar).
Menutup pabrik rokok jelas bukanlah solusi yang baik, malah tampaknya suatu hal yang mustahil. Mengingat industri rokok telah menyediakan jutaan lapangan kerja bagi masyarakat, di samping telah menyumbang devisa yang tidak kecil bagi negara. Sebagai contoh saja, pabrik rokok Gudang Garam di Kediri telah menyumbang 70 % pendapatan pemerintah kota, dari sini bisa kita lihat betapa besarnya kontribusi Gudang Garam terhadap pembangunan kota Kediri. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila tiba-tiba pemerintah menutup Gudang Garam…
Namun dengan terbitnya tentang larangan merokok di tempat umum di beberapa Pemda patut kita dukung. Kebijakan untuk merelokalisir para perokok dengan menyediakan smoking room adalah sebuah jalan tengah baik yang perlu dipikirkan pemerintah (berbagai sumber).